Ada masa ketika hidup terasa begitu sederhana.
Tidak banyak yang perlu dikejar. Tidak ada jadwal yang terlalu padat, tidak ada keharusan untuk selalu terburu-buru, dan tidak terlalu banyak hal yang perlu dibuktikan kepada siapa pun. Hari-hari berjalan dengan tenang. Ada pekerjaan yang dilakukan, ada waktu untuk beristirahat, ada hal-hal kecil yang menyenangkan. Semuanya baik-baik saja.
Bahkan, mungkin inilah kehidupan yang pernah diimpikan.
Lalu entah bagaimana, di antara hari-hari yang tenang itu, sebuah pertanyaan muncul.
Am I doing fine?
Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar salah. Tidak ada masalah besar yang sedang terjadi. Hanya saja, sesekali muncul perasaan aneh ketika melihat kehidupan orang lain.
Ada yang bangun pagi, berangkat bekerja, menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, lalu pulang ketika hari hampir selesai. Ada yang menikah, memiliki anak, membeli rumah, merencanakan masa depan. Kehidupan mereka bergerak dengan cara yang begitu familiar.
Sementara itu, ada kehidupan yang berjalan dengan ritme berbeda.
Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu ramai. Tidak selalu mengikuti urutan yang sepertinya sudah disediakan untuk kebanyakan orang.
Dan ketika dua kehidupan itu berdiri berdampingan, meski hanya di dalam pikiran, sesuatu mulai terasa sedikit ganjil.
Am I working hard enough?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi rasanya tidak pernah benar-benar sederhana.
Sebab, bagaimana seseorang tahu bahwa dirinya sudah bekerja cukup keras ketika ukuran “cukup” terus berubah?
Hari ini mungkin terasa produktif. Besok, melihat seseorang yang tampaknya melakukan lebih banyak, semua pencapaian itu mendadak terlihat kecil.
Begitu pula dengan kehidupan.
Ketika sedang menjalaninya, semuanya terasa menyenangkan. Tidak ada keinginan untuk menukarnya dengan kehidupan orang lain. Namun ketika melihat dari kejauhan kehidupan yang berbeda—yang lebih sibuk, lebih teratur, lebih sesuai dengan apa yang selama ini dianggap normal—tiba-tiba muncul keraguan.
Is this really enough?
Atau mungkin yang lebih mengganggu adalah pertanyaan lain:
What if I’m just convincing myself that I’m happy?
Mungkin perasaan tenang itu benar-benar kebahagiaan.
Mungkin juga hanya sesuatu yang terasa nyaman karena belum pernah benar-benar diuji.
Sulit membedakannya.
Sebab tidak semua kehidupan yang terlihat tenang berarti seseorang sedang baik-baik saja. Dan tidak semua kehidupan yang terlihat sibuk berarti seseorang sedang menuju sesuatu yang lebih baik.
Tetapi tetap saja, ketika hampir semua orang di sekitar bergerak ke arah yang sama, berdiri di tempat yang berbeda kadang membuat seseorang bertanya-tanya apakah dirinya sedang memilih jalan sendiri, atau hanya tertinggal tanpa menyadarinya.
Pertanyaan itu datang terutama pada malam-malam yang sunyi.
Ketika tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tidak ada siapa-siapa yang perlu ditemui. Hanya ada diri sendiri dan segala hal yang selama siang hari berhasil dibuat tidak terlalu penting.
Am I doing fine?
Am I doing enough?
Atau sebenarnya…
Is there something I’m supposed to be doing that I haven’t done yet?



