Aku mengenal keduanya dengan cara yang berbeda.
Udara, ia hadir tanpa suara, tanpa jeda, tanpa pernah benar-benar meninggalkan ruang yang ia isi. Ia tidak datang untuk menarik perhatian, tidak pula menuntut untuk disadari. Namun dalam setiap detik yang berjalan, ia tetap setia menjalankan perannya, menjaga kehidupan tetap berlangsung, bahkan ketika tak satu pun menyebut namanya.
Pelangi, sebaliknya, adalah kehadiran yang selalu dinantikan.
Ia tidak menetap, tidak pula menjanjikan kemunculan yang pasti. Namun setiap kali ia hadir, langit seolah berubah menjadi panggung, dan semua mata tertuju padanya. Dalam waktu yang singkat, ia mampu menciptakan kekaguman yang lama tinggal di ingatan.
Aku melihat keduanya, memahami keduanya.
Suatu hari, udara berkata padaku, dengan suara yang sangat tenang, “Aku ingin menjadi pelangi.”
Tidak bisa aku jawab.
Bukan karena aku tidak tahu harus berkata apa, tapi karena aku tahu kalimat itu tidak sesederhana kedengarannya.
Itu bukan tentang ingin berubah.
Itu tentang ingin dilihat.
“Aku selalu ada,” lanjutnya. “Tapi tidak pernah benar-benar diperhatikan.”
Aku mendengarkan.
Karena aku tahu, udara tidak sedang mengeluh. Ia hanya sedang jujur, dengan cara yang paling sunyi.
Ia tahu dirinya penting. Ia tahu tanpa dirinya, tidak ada yang akan bertahan. Tapi ternyata, menjadi penting tidak selalu membuat seseorang merasa dihargai.
Dan aku tidak bisa menyangkal itu.
Pelangi, di sisi lain, tidak pernah menyadari apa pun.
Ia datang, membawa warna, lalu pergi. Ia tidak pernah meminta untuk dikagumi, tapi tetap saja, semua mata selalu tertuju padanya. Ada hal-hal yang memang secara alami menarik perhatian, tanpa perlu berusaha.
Dan itu bukan kesalahan siapa-siapa.
Aku pernah berkata pada udara, “Kamu tidak perlu menjadi pelangi.”
Ia diam.
Seperti biasa.
“Tahu kenapa pelangi terlihat begitu istimewa?” lanjutku. “Karena ia tidak selalu ada. Tapi kamu… kamu adalah alasan kenapa semua hal bisa tetap ada.”
Udara tidak menjawab saat itu.
Tapi aku tahu ia mendengarkan.
Aku tidak pernah memilih salah satu dari mereka.
Aku mengagumi pelangi, seperti orang-orang pada umumnya.
Tapi aku belajar menghargai udara, dengan cara yang tidak semua orang lakukan.
Karena aku tahu, dunia ini tidak hanya berjalan karena hal-hal yang indah untuk dilihat, tapi juga karena hal-hal yang setia untuk tetap ada.
Dan sejak hari itu, aku mulai lebih sering diam sejenak.
Menarik napas lebih dalam.
Bukan karena aku kehabisan udara.
Tapi karena aku ingin memastikan… bahwa setidaknya, ada orang yang benar-benar menyadari keberadaannya.



