Bukan menunggu sesuatu yang menyenangkan. Bukan pula menunggu kabar baik. Hanya menunggu sebuah hari yang sebenarnya tidak pernah disebutkan tanggalnya.
Seorang mungkin sedang duduk di rumah yang sudah tidak lagi ramai. Barang-barang itu mungkin masih ada di beberapa sudut, tetapi yang paling terasa justru bagian yang sudah kosong. Ia tahu dirinya juga akan menyusul meninggalkan rumah, cepat atau lambat. Tidak ada yang perlu mengejarnya. Kematian sudah pernah datang ke rumah itu, dan suatu hari nanti mungkin akan datang lagi untuknya.
Mungkin karena itu, ia menjalani hari seperti biasa.
Makan. Tidur. Menonton televisi. Membuka jendela pagi-pagi. Sesekali tertawa ketika menemukan sesuatu yang lucu.
Seolah-olah tidak ada bom waktu yang sedang berjalan diam-diam di dalam tubuhnya.
Di sampingnya, masih ada yang memperhatikan semua itu.
Ia pernah kehilangan juga. Sekarang ia melihat orang yang masih tersisa menjalani hari-hari setelah kehilangan tersebut. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa orang yang tersisa pun suatu saat akan pergi.
Kadang muncul rasa ingin tahu yang aneh.
Seperti apa rasanya bagi seseorang yang tahu dirinya tinggal menunggu? Apakah ia takut? Apakah ia sudah terbiasa? Apakah setiap pagi terasa sedikit berbeda ketika tahu jumlah pagi yang tersisa tidak akan selamanya bertambah?
Seperti apa rasanya bagi seseorang yang tahu dirinya akan ditinggal lagi? Apakah ia takut? Apakah ia sudah terbiasa? Apakah setiap pagi terasa sedikit berbeda ketika tahu sisa jumlah pagi bersamanya tidak akan bertambah?
Mereka mungkin ingin saling bertanya, tetapi mungkin pertanyaan seperti itu terlalu kejam untuk diucapkan.
Jadi mereka sama-sama bersikap biasa.
Mereka tetap menjalani hari. Tetap datang, duduk bersama, lalu membicarakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Berpura-pura bahwa tidak sedang menghitung waktu.



