Ilustrasi rumah dengan pintu tertutup sebagai metafora ego dan insecurity yang mengusir orang-orang baik.

A House Too Safe

Beberapa kali aku berpikir, mungkin tidak semua kehilangan terjadi karena orangnya salah. Kadang yang pergi bukan karena mereka ingin pergi. Kadang ada penjaga di dalam diri kita yang terlalu pandai mengusir.

Namanya bisa ego. Bisa juga insecurity. Keduanya selalu datang dengan alasan yang terdengar masuk akal. “Jangan terlalu bergantung.” “Jangan terlalu berharap.” “Kalau pergi sekarang, nanti tidak akan terlalu sakit.” Mereka terdengar seperti suara yang ingin melindungi.

Masalahnya, penjaga yang terlalu curiga tidak lagi pandai membedakan ancaman dan ketulusan.

Ego membuat seseorang lebih memilih menang daripada memahami. Ia rela kehilangan hubungan, asal harga dirinya tidak terasa kalah. Di sisi lain, insecurity membuat seseorang terus mencari tanda-tanda penolakan, bahkan ketika yang ada di depannya justru penerimaan.

Lucunya, keduanya sama-sama mengusir orang yang sebenarnya ingin tinggal.

Bukan karena orang itu jahat. Bukan karena hubungan itu tidak layak diperjuangkan. Tetapi karena rasa takut berhasil menyamar menjadi kebijaksanaan.

Kadang aku membayangkan ego dan insecurity seperti dua penjaga di depan sebuah rumah.

Mereka memeriksa setiap orang yang datang. Mereka mencurigai setiap niat baik. Mereka melihat ancaman di balik setiap ketulusan.

Mereka merasa sedang menjalankan tugas. Melindungi pemilik rumah dari kecewa, dari pengkhianatan, dari rasa sakit yang mungkin datang suatu hari nanti.

Dan mungkin mereka memang berhasil.

Tidak semua orang berhasil melewati pintu itu. Tidak semua ketukan mendapat jawaban. Ada yang memilih berhenti mencoba. Ada yang, tanpa banyak suara, memutuskan bahwa rumah itu memang tidak sedang menerima tamu.

Lalu hari-hari berjalan seperti biasa.

Rumah itu tetap utuh. Tidak ada jendela yang pecah. Tidak ada pintu yang didobrak. Tidak ada kekacauan yang harus dibereskan.

Hanya saja, entah sejak kapan, lorong-lorongnya terasa lebih lengang. Ruang tamunya tidak lagi mengenal suara selain gema langkah pemiliknya sendiri.

Dan para penjaga itu masih berdiri di tempat yang sama.

Masih memeriksa setiap ketukan. Masih mencurigai setiap niat baik. Masih menganggap mereka sedang melakukan hal yang benar.

Di dalam rumah itu, tidak satu pun penghuninya memegang kunci pintu.

Hati tidak pernah benar-benar setuju.

Logika pun beberapa kali ingin mengajukan keberatan.

Tetapi para penjaga selalu berbicara lebih dulu.

Lalu pintu kembali ditutup.

Entah sudah berapa kali.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Content Protected