Seseorang berdiri sendiri di persimpangan jalan dengan suasana senja, melambangkan pilihan hidup dan konsekuensi

Kesalahan yang Kupilih Sendiri, Terasa Lebih Ringan untuk Ditanggung

rilaMOW’s little moments – Ada masa di mana kita berusaha sekuat mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Kita menimbang, memikirkan ulang, bahkan menunda langkah hanya karena takut semuanya berakhir tidak sesuai harapan. Dan yang seringkali lebih kita takuti dari kesalahan itu adalah dampaknya, hilangnya kesempatan, atau bahkan sesuatu yang lebih buruk, sesuatu yang hilang karena kesalahan itu yang tidak ada gantinya, kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.

Seiring waktu, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana. Tidak semua kesalahan terasa sama. Ada jenis kesalahan yang, meskipun tetap begitu menyakitkan, justru terasa lebih sedikit menyakitkan untuk dijalani. Bukan karena dampaknya kecil atau masih bisa diperbaiki, tapi karena aku tahu, aku sendiri yang memilih jalan itu.

Ketika sebuah keputusan datang dari diri sendiri, ada semacam kesiapan yang ikut terbentuk bersamanya. Kita mungkin sudah melihat kemungkinan terburuknya sejak awal, meski tetap berharap semuanya berjalan baik. Dan saat akhirnya tidak sesuai rencana, rasa kecewa itu datang tanpa benar-benar mengejutkan. Ada rasa “ya, aku sudah tahu ini bisa terjadi.”

Berbeda rasanya ketika kita berada dalam situasi yang bukan sepenuhnya pilihan kita. Ketika keputusan diambil oleh orang lain, padahal kita punya kesempatan untuk memutuskan sendiri, terlepas dari sama atau tidaknya keputusan akhir itu. Saat semuanya berjalan salah, dari keputusan orang lain itu, yang muncul bukan hanya kecewa, tapi juga penyesalan yang lebih dalam dan gumaman “harusnya begini… harusnya bisa begitu…”, “kalau saja … kalau saja…” yang lebih menyakitkan.

Mungkin itulah yang membuat kesalahan yang kita pilih sendiri terasa lebih “ringan”. Bukan karena tidak sakit, tapi karena kita tidak membiarkan orang lain yang memutuskan. Kita tidak sibuk menunjuk ke arah lain. Kita hanya duduk dengan perasaan itu, mengakuinya, dan perlahan belajar darinya.

Ada tanggung jawab yang diam-diam menguatkan di dalamnya. Saat kita tahu ini adalah pilihan kita, kita juga lebih jujur dalam menerima akibatnya. Tidak ada alasan untuk lari. Tidak ada cerita yang perlu diputar ulang untuk mencari pembenaran. Hanya ada kita, keputusan kita, dan pelajaran yang datang bersamanya.

Dan mungkin, di situlah letak hal yang paling menenangkan. Meski memaafkan diri sendiri tidak jadi lebih mudah. Tapi kita tahu, kita tidak sedang berada di dalam keputusan orang lain. Kita hanya sedang menjalani sesuatu yang, pada satu titik dalam hidup, memang kita pilih dengan sadar.

Beberapa kesalahan memang perlu kita jalani sendiri, agar kita benar-benar mengerti bagaimana rasanya memilih, jatuh, dan bangkit tanpa menyalahkan siapa pun. Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa sering kita salah, tapi seberapa jujur kita menerimanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Content Protected